Minggu, 07 Desember 2014

Cerita Wayang Wahyu Cakraningrat

Cerita wayang Wahyu Cakraningrat menceriterakan tentang perjalanan tiga orang satriya menempuh marabahaya dalam usahanya untuk dapat memperoleh kekuasaan. Ketiga satriya tersebut adalah raden Lesmana Mandrakumara, raden Samba Wisnubrata dan raden Abimanyu.
Wahyu Cakraningrat sendiri adalah wahyu yang dianggap sebagai syarat untuk mendapatkan kekuasaan tersebut. Konon, siapapun yang mendapatkannya maka keturunannya akan dapat memegang tampuk kekuasaan.

Untuk mendapatkan wahyu cakraningrat ini sendiri tidak mudah karena harus melalui laku tapa brata yang berat.
Semula wahyu Cakraningrat tersebut masuk kedalam tubuh raden Lesmana Mandrakumara yang melakukan tapanya di hutan Gangguwirayang. Namun Lesmana Mandrakumara tidak bisa mengontrol diri ketika muncul godaan dari putri Pamilutsih yang merupakan jelmaan dari dewi Maninten. Akhirnya wahyu cakraningrat keluar dari tubuhnya.

Orang kedua yang mendapatkan kesempatan berkah wahyu cakraningrat adalah raden Samba Wisnubrata. Putra dari prabu Kresna itupun dianggap tidak lulus ketika ujian menghampirinya. Ketika dua orang, lelaki dan perempuan yang mengaku anak dan bapak menghampirinya dan ingin mengikutinya, dengan sikap sombong dan arogan dia mengusir sang bapak karena dianggap sudah terlalu tua untuk mengikutinya. Namun dia merayu anak perempuannya agar bersedia ikut dengannya. Lelaki tua dan anak perempuan itu akhirnya mengaku sebagai jelmaan dari wahyu cakraningrat dan dewi Waminten dan memutuskan bahwa wahyu cakraningrat tidak pantas berada dalam tubuh yang arogan. Dan keluarlah wahyu itu dari tubuh raden Samba.

Wahyu Cakraningrat kemudian masuk ke tubuh Abimanyu sebagai pertapa ketiga. Wahyu itu masuk ketika hari telah menjelang malam. Segera setelah mendapatkan wahyu, raden Abimanyu keluar dari pertapaannya. Tubuhnya segar, wajahnya terlihat berseri-seri bercahaya sebagai tanda wahyu Cakraningrat telah manjing bersatu dengannya. Ketika raden Abimanyu akan kembali pulang ke negerinya Amarta, ditengah jalan dicegat oleh para kurawa yang hendak merebut wahyu cakraningrat. Namun niat itu tidak berhasil dengan baik karena Abimanyu tetap bisa mempertahankan keberadaan wahyu itu dalam dirinya.

Prabu Kresna ketika mengetahui raden Samba anaknya gagal mendapatkan wahyu cakraningrat, berkehendak menikahkan salah seorang putrinya, Dewi Siti Sundari, dengan Abimanyu. Harapannya agar kelak keturunannya dapat menjadi penguasa. Namun dewa berkehendak lain karena Siti Sundari ternyata mandul. Abimanyu hanya mempunyai satu putra yaitu Parikesit dari rahim dewi Utari. Kelak, Parikesit yang akan menjadi penerus tahta kerajaan Astina setelah perang Bharatayudha berakhir. Konon, Parikesit juga dianggap sebagai orang yang telah menurunkan raja-raja yang berkuasa di pulau Jawa.

Jumat, 05 Desember 2014

Cerita Wayang Karno Tanding

Karno tanding adalah pertempuran terbesar dalam perang Bharatayudha. Pertempuran antara adipati Karno disatu sisi melawan Arjuna disisi lain.

Arjuna dan adipati Karno sebenarnya adalah saudara sekandung berlainan ayah. Dilahirkan dari ibu bernama Kunti Nalibronto, Arjuna merupakan anak dari Pandu Dewanata.
Sedangkan adipati Karno lahir karena kesalahan Kunti dimasa mudanya yang telah menyalahgunakan Ajian Pameling untuk memanggil dewa Surya. Oleh dewa Surya, Kunti diberi seorang anak yang dititipkan ke rahimnya.
Merasa malu karena hamil tanpa adanya suami, akhirnya anak yang lahir lewat telinga Kunti tersebut di larung ke sungai Gangga. Kelak anak yang bernama Basukarno tersebut ditemukan oleh seorang kusir kerajaan bernama Adiroto

Karno tanding adalah pertempuran dua saudara kandung berlainan ayah yang mempunyai kepandaian dan kesaktian yang seimbang. Sebelum pertempuran bharatayudha, Kunti telah mempertemukan keduanya dan memohon kepada adipati Karno agar mau bergabung dengan Pandawa untuk melawan Kurawa.  Namun permintaan tersebut ditolak oleh Adipati Karno. Sebagai satriya yang telah dibesarkan dan diangkat derajatnya oleh Duryudana, tidak sepantasnya Karno berkhianat. Adipati Karno merasa telah banyak berhutang budi. Dan kewajiban dia sebagai satriya untuk membalasnya.

"Ibu...Saya tidak dendam kepada ibu yang telah membuang saya ke sungai gangga ketika masih bayi. Itu semua adalah takdir yang harus saya jalani. Namun demikian saya tidak dapat mengabulkan permohonan ibu untuk bergabung dengan saudara-saudara saya Pandawa. Bukan karena saya tidak mencintai mereka. Tapi lebih dikarenakan saya telah berhutang budi kepada Kurawa, khususnya Duryudana. Duryudanalah yang telah membesarkan saya dan mengangkat derajat saya. Saya tidak mau menjadi satriya pengecut yang hanya muncul disaat-saat senang dan lari ketika mereka membutuhkan saya. Apa kata Dewata jika saya melakukan itu. Ma'afkan saya, Ibu..." demikian adipati Karno memberikan penjelasannya.
Seketika suasana haru menyelimuti dada mereka. Tidak ada kata yang terucap selain hanya airmata yang membasahi pipi. Mereka berpelukan lama.

Akhirnya perang Bharatayudhapun pecah. Adipati Karno muncul dengan kereta perangnya dengan prabu Salya sebagai kusirnya. Sementara di pihak lain, Arjuna muncul dengan kereta perang yang dikusiri prabu Kresna.
Ketika pertempuran terjadi, keduanya saling menghujankan anak panah. Tetapi tak satupun mengenai keduanya. Sepertinya keduanya sama-sama tidak tega melukai lawannya. Kadang kala hujan panah antara keduanya berhenti sesaat hanya untuk sekedar saling beradu pandang.

Mengetahui gelagat seperti itu, prabu Kresna yang menjadi sais kereta perang Arjuna mengambil strategi. Ketika Arjuna mulai memasang senjata andalannya panah pasopati ke gendewanya, sontak prabu Kresna menyentak tali kekang kudanya hingga kuda itu bergerak maju kedepan laksana terbang. Seketika panah pasopati melesat tepat menebas leher adipati Karno. Gugurlah anak dewa Surya itu tersungkur ke bumi.
Arjuna marah besar kepada prabu Kresna karena perbuatannya. Karena Arjuna memang tidak pernah berniat untuk mengarahkan pasopati ke adipati Karno.

" Ketika pertempuran semakin lama, akan semakin banyak memakan korban dari kedua belah pihak. Berarti rakyat pula yang nantinya akan menderita.
Ini pertempuran, Dimas. Ketika ada senopati yang gugur, itulah tugas mulia yang telah diembannya." prabu Kresna bertutur dengan bijak.

Pada akhirnya Arjunapun harus pasrah menerima takdir hidupnya sebagai senopati yang telah membunuh saudara kandungnya sendiri.
Inilah perang. Dalam perang selalu akan ada pihak yang tersingkir. Tidak peduli siapa yang benar. Karena kebenaran yang hakiki hanyalah milik Allah SWT semata. Wallahu'alam bishowab.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Karakteristik Wayang Dewi Anggraeni



Karakteristik wayang Dewi Anggraeni


Dewi Anggraeni
Dewi Anggraeni merupakan istri dari Prabu Ekalaya, raja Paranggelung. Dia merupakan keturunan dari bidadari Warsiki. Adapun sifat dari Dewi Anggraeni, disamping berwajah cantik, dia bersifat setia, murah hati, baik budi, sabar dan jatmika, menarik hati dan sangat setia kepada suaminya

Alkisah, Arjuna pernah jatuh cinta pada Dewi Anggraeni dan berusaha untuk merayunya. Namun ditolak oleh Dewi Anggraeni dan dilaporkannya perbuatan Arjuna tersebut kepada suaminya. Mendengar laporan istrinya, Prabu Ekalaya merasa cemburu dan marah. Kemudian Prabu Ekalaya menantang Arjuna untuk berkelahi. Dia tidak rela jika istrinya diganggu Arjuna.

Pernah suatu ketika, Prabu Ekalaya ingin berguru kepada Resi Drona tetapi ditolak. Prabu Ekalaya tidak kekurangan akal. Dia membuat patung yang menyerupai Resi Drona yang dianggap sebagai gurunya. Setiap kali akan memulai latihan, Prabu Ekalaya menyembah terlebih dahulu kepada patung Resi Drona seakan-akan dia sedang berhadapan dengan sang Guru sendiri.

Suatu hari, ketika Prabu Ekalaya sedang berlatih di hutan, dia mendengar suara anjing menggonggong. Dan tanpa melihat obyeknya, dia melepaskan anak panah kearah suara berasal. Anak panah tersebut tepat mengenai mulut anjing tersebut. Para Pandawa yang melihat kejadian tersebut melaporkannya kepada Resi Drona.

Resi Drona kemudian menghampiri Prabu Ekalaya. Melihat kedatangan orang yang dikagumi dan dihormatinya sebagai gurunya, Prabu Ekalaya seketika menghaturkan sembah. Namun ternyata ketulusan Prabu Ekalaya tidak mendapatkan sambutan seperti yang diharapkannya. Bahkan Resi Drona menghendaki agar Prabu Ekalaya memotong ibu jari tangan kanannya yang memakai cincin sakti Mustika Ampal. Hal itu sebagai Dhaksina atau wujud dari rasa terimakasih Prabu Ekalaya yang telah menganggap Resi Drona sebagai guru.

Sebagai murid yang berbakti, Prabu Ekalaya menuruti permintaan gurunya. Namun akibat dari itu semua, hilanglah semua kesaktian Prabu Ekalaya. Ketika bertempur dengan Arjuna, dia gugur di tangan Arjuna.

Sementara Dewi Anggraeni, sebagai wujud kesetiaannya sebagai istri sejati, dia rela melakukan bela pati atau bunuh diri untuk membela kehormatan dirinya dan suaminya. Kematian Dewi Anggraeni merupakan wujud kesetiaan istri terhadap suami. Meskipun dia mendapat godaan dan rayuan dari Arjuna, sang lelananging jagad, namun cinta dan kesetiaan Dewi Anggraeni tak tergoyahkan.





 

Kamis, 03 Juli 2014

Cerita Srikandi dalam Dua Versi



Cerita Srikandi Dalam Dua Versi

Srikandi


Dewi Wara Srikandi menurut versi Jawa

Dalam cerita versi pewayangan Jawa, tokoh Wara Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan orang tuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, yang merupakan raja dari kerajaan Cempalareja. Mereka menginginkan lahirnya anak yang normal karena kedua kakaknya, yaitu Dewi Drupadi dan Drestadyumna dilahirkan melalui puja Semedi. Dewi Drupadi dilahirkan lewat bara api pemujaan, sedangkan Drestadyumna dilahirkan melalui asap api pemujaan.

Ciri khas Srikandi : bermata jaitan, bermuka mendongak, mempunyai hidung mancung, bersuara mendencing yang menandakan bahwa dia adalah seorang putri, bersanggul gede, berjamang dengan garuda membelakang. Berkalung bulan sabit, sebagian rambutnya polos menjuntai kebelakang. Memakai kain dodot putren.

Dewi Srikandi mempunyai hobby dalam bidang olah keprawiran dan ahli dalam memainkan senjata panah. Keahlian itu diperolehnya setelah berguru kepada Raden Arjuna.

Pada suatu ketika, Srikandi mendatangi Rarasati untuk belajar memanah karena dilihatnya bahwa Rarasati pernah diajar memanah oleh Raden Arjuna. Namun kemudian pada akhirnya, Arjunalah yang mengajari Srikandi. Dari seringnya pertemuan antara keduanya, timbullah rasa cinta di dalam hati keduanya.

Dewi Srikandi pernah mendapat lamaran dari seorang raja dari kerajaan Parangkubarja, bernama Prabu Jungkungmardea. Namun karena cinta Dewi Wara Srikandi telah tertambat pada Arjuna, larilah dia melaporkan perihal lamaran itu pada Arjuna. Merasa cemburu, Arjuna menantang Prabu Jungkungmardea untuk bertarung. Pertarungan yang tidak seimbang menyebabkan terbunuhnya raja dari kerajaan Parangkubarja tersebut.
Pada akhirnya Dewi Wara Srikandi diperistri oleh Raden Arjuna dengan adat kebesaran.

Ketika terjadi perang Bharatayudha, Dewi Wara Srikandi menjadi panglima perang dari pihak Pandawa menggantikan resi Seta, ksatria Wirata yang telah gugur ketika menghadapi Bhisma. Namun pada akhirnya, Dewi Srikandilah yang dapat membunuh Bhisma dengan menggunakan panah Hrusangkali. Hal ini juga karena kutukan dari Dewi Amba yang dendam kepada Bhisma karena cintanya ditolak. Sebelum meninggal Dewi Amba bersumpah akan  berinkarnasi untuk membunuh Bhisma. 

Dalam akhir riwayatnya, Dewi Srikandi tewas dibunuh Aswatama ketika sedang tidur setelah akhir perang Bharatayuda


Srikandi menurut versi India

Srikandi adalah anak dari raja Drupada yang berjuang di pihak Pandawa ketika terjadi perang di Kuruseta.
Dia telah lahir di masa sebelumnya sebagai seorang bernama Amba yang ditolak cintanya oleh Bhisma. Merasa telah diperhinakan oleh Bhisma, Amba melakukan tapa brata untuk membalas dendam akibat perlakuan Bhisma. Amba kemudian berinkarnasi kepada Srikandi.

Ketika Srikandi lahir, terdengar suara Dewata yang memerintahkan agar ayahnya mendidiknya sebagai laki-laki.
Srikandi pernah menikah dengan seorang wanita.  Namun kemudian, ketika istrinya mengetahui siapa sebenarnya Srikandi, Srikandi mendapatkan kehinaan yang begitu besar dari istrinya.

Srikandi lari dari Pancala dengan maksud hendak bunuh diri. Tetapi diselamatkan oleh seorang Yaksha dan membantunya dengan mengganti alat kelamin Srikandi dengannya. Jadilah Srikandi lelaki tulen. Pada akhirnya, kehidupan perkawinan Srikandi mendapatkan kebahagiaan dengan menurunkan seorang anak.
Setelah meninggal, kejantanan Srikandi dikembalikan kepada yang empunya.

Dalam pertempuran di Kurusetra, Bisma mengenalinya sebagai titisan Dewi Amba. Untuk itulah dia tidak melawan ketika berhadapan dengan Srikandi. Mengetahui itu, Arjuna yang berdiri di belakang Srikandi tidak melepaskan kesempatan itu, dan melepaskan anak panah yang mematikan kepada Bisma.

Rabu, 05 Maret 2014

Filosofi Wayang Petruk

Filosofi Wayang Petruk

Wayang Petruk

PETRUK adalah anak Gandarwa (sejenis Jin) dan merupakan anak angkat Semar yang kedua setelah Gareng. Petruk mempunyai julukan Kanthong Bolong (suka berderma), Doblajaya (pandai). Dan memang Petruk adalah yang paling pandai diantara kedua saudaranya.

Petruk tinggal di Pecuk Pecukilan. Ia mempunyai satu anak dari istri bernama Dewi Undanawati. Anak Petruk bernama Bambang Lengkung Kusuma (seseorang yang tampan). Petruk mempunyai sifat momong ( mengasuh ), momot (pintar menyimpan rahasia), momor (berlapang dada saat dikritik), mursid ( mengerti dan paham pada apa yang dikehendaki tuannya) serta murakabi ( bermanfaat untuk sesama)

Alkisah, suatu hari Pandawa kehilangan jimat Kalimasada. Jimat itu dicuri oleh Mustakaweni. Akibat hilangnya jimat tersebut, keangkaramurkaan timbul dimana-mana. Kemudian diutuslah Bambang Irawan dan Bambang Priyambodo (anak-anak Arjuna) disertai Petruk untuk merebut jimat tersebut. Dengan berbagai macam upaya akhirnya mereka bertiga mampu pula merebut jimat tersebut.

Ternyata Adipati Karna juga berhasrat untuk memiliki jimat tersebut. Diam-diam ditusuknya Petruk dengan keris pusaka Kyai Jalak miliknya. Petruk mati. Tapi berkat kesaktian ayahnya (Gandarwa) akhirnya Petruk dihidupkan kembali. Oleh ayahnya, Petruk dibantu untuk merebut kembali jimat Kalimasada. Gandarwa beralih rupa menjadi Duryudana.

Ketika Adipati Karna bertemu Duryudana, jimat Kalimasada diserahkan kepadanya. Tapi alangkah terkejutnya Adipati karna ketika mengetahui bahwa tokoh yang dianggap Duryudana ternyata hanyalah jelmaan gandarwa, ayah Petruk. Bagaimanapun nasi telah menjadi bubur. Jimat telah beralih tangan pada Gandarwa.

Oleh Gandarwa, jimat diserahkan kembali kepada Petruk serta berpesan agar Petruk menyimpan jimat tersebut diatas kepalanya. Aneh bin ajaib. Setelah Petruk melaksanakan pesan ayahnya, Petruk berubah menjadi seorang yang sakti mandraguna, tidak mempan tertembus senjata apapun. Bahkan Adipati Karna yang berniat merebut kembali senjata itu, dapat dikalahkannya.Akhirnya Petrukpun mengembara (terpisah dari tuannya bambang Irawan). Ditaklukkannya satu demi satu negara yang dilewatinya.Termasuk pula negara Ngrancang Kencana. Dan disana, Petruk mengangkat dirinya menjadi raja dengan sebutan Prabu Wel Geduwel Beh.

Seluruh negara telah ditaklukkan, kecuali Pandawa, Mandura serta Dwarawati. Namun pada akhirnya, Pandawa serta Mandura dapat dikalahkan. Prabu Kresna, penguasa kerajaan Dwarawati menyerahkan persoalan kepada Semar agar supaya kerajaan Dwarawati tidak jatuh ketangan prabu Wel Geduwel Beh. Oleh Semar, Gareng dan Bagong diutus untuk menghadapi Prabu Wel Geduwel Beh

Terjadi pertempuran antara Bagong, Gareng dan Prabu Wel Geduwel Beh. Setelah pertempuran berlangsung sekian lama, belum tampak siapa yang menang dan siapa yang kalah.Keringat telah  bercucuran. Saat itulah, Bagong dan Gareng dapat mengenal siapa sejatinya Prabu Wel Geduwel Beh setelah membaui bau khas keringat Prabu Wel Geduwel Beh, yang diyakini bahwa itu adalah bau keringat saudaranya, Petruk.

Akhirnya, peperangan tidak lagi dilanjutkan. Malahan Bagong dan Gareng mengajak Prabu Wel Geduwel Beh bercanda dan berjoged bersama dengan berbagai macam lagu dan tari. Tentu saja, lambat laun Prabu Wel Geduwel Beh lupa pada statusnya sebagai raja dan kembali menunjukkan watak aslinya sebagai PETRUK. Oleh Gareng dan Bagong, Prabu Wel Geduwel Beh ditangkap dan digelitik  hingga berubah menjadi wujud aslinya.

Sesudah terbuka semuanya, Kresna bertanya kepada Petruk kenapa dia melakukan semua ini. Petruk beralasan bahwa aksi tersebut untuk mengingatkan kepada tuannya untuk memperhitungkan semua tindakan yang akan dikerjakan. Tidak bregudal-bregudul menuruti kemauannya sendiri. Misalnya, waktu membangun Candi Sapta Arga, kerajaan dibiarkan kosong hingga jimat Kalimasada dapat dicuri. Petruk juga mengingatkan kepada Bambang Irawan agar tidak mudah percaya pada orang. Dan berharap agar bambang Irawan lebih bertanggungjawab dalam melaksanakan segala tugas dan kewajibannya. Tidak sombong dan merendahkan rakyat kecil. Karena jika rakyat kecil sudah memberontak bisa berbahaya bagi kelangsungan hidup berkenegaraan.

bagaimanapun, Petruk tahu dia telah bersalah. dan meminta maaf kepada Pandawa. Pandawa memaafkan kesalahannya sekaligus dengan lapang dada menerima saran dan nasehat Petruk

Kesimpulan dari cerita tersebut diatas, bahwa budi dan watak tidak bisa dilihat hanya dari tampilan, tetapi harus dengan tindakan nyata. Seseorang harus bertanggungjawab pada segala tugas dan tanggung jawab yang telah diamanahkan kepadanya. Harus berwatak ksatria., dalam arti jika bersalah harus rela meminta maaf. Serta harus mempunyai perhitungan yang matang dalam pengambilan segala macam keputusan apapun. Dan tidak grusa-grusu..


Minggu, 02 Maret 2014

Lakon Abimanyu Gugur

Lakon Abimanyu Gugur

Lakon Abimanyu Gugur

Akhirnya barisan Pandawa Mandalayuda bisa kembali solid setelah kehadiran Abimanyu di tengah palagan. Amukan Abimanyu di atas punggung kuda Pramugari, seperti banteng terluka. Kuda tunggangan Abimanyu seperti tahu seluruh tekad penunggangnya, berkelebat menangani musuh yang mengurung. Gerakannya gesit seperti sambaran burung sikatan. Olah seluruhpanah yang dipunyai penungangnya untuk menumpas musuh dari jarak jauh, serta keris Pulanggeni untuk merobohkan musuh didekatnya tidak lama telah memakan korban puluhan nyawa.Juga Arya Dursasana yang akan membekuk justru terkena panah Abimanyu. Meskipun tak mempan, tetapi kerasnya pukulan anak panah membuatnya  muntah darah. Lari tunggang langgang Arya Dursasana menjauhi palagan.

Haswaketu yang coba menandingi kesaktian Abimanyu, tewas pula tersambar Kyai Pulanggeni warisan sang bapak, Arjuna. Raungan kesakitan bergema dari mulut Haswaketu membikin jeri kawannya, Prabu Wrahatbala dari Kusala.
Tetapi, Prabu Wrahatbala nekad maju mendekati Abimanyu. keduanya sudah bertemu. Gerakan Wrahatbala yang kalah wibawa dengan Abimanyu yang  muda tetapi gagah berani, membuatnya benar-benar canggung. Tidak berapa lama raga Wrahatbala juga menyusul rekannya tersambar Kyai Pulanggeni.

Tetapi di segi yang lain, berlangsung juga hal yang sama. Bambang Sumitra serta Bambang Wilugangga, masing-masing terbunuh oleh panah Adipati Karna serta Prabu Salya. Gugurlah beberapa pendekar bangsa. darahnya membasahi ibu pertiwi.
Tetapi bukan hanya Abimanyu apabila tak dapat menangani serangan empat raja sakti dari beragam penjuru. Licin seperti belut, Abimanyu menghindari serangan bergelombang dengan senjata ditangan masing masing lawannya.
Kelihatanlah kemampuan masing masing pihak.

Selang beberapa saat, saat pedang Mahameya terpental lantaran lengannya terpukul Abimanyu, seketika itu pula senjata Kyai Pulanggeni milik Abimanyu menusuk lambungnya. Robohlah Mahameya tersungkur ke bumi. Satu lawan kembali roboh. Tiga lawan yang masih bersisa menjadi ciut nyalinya. Gerakan mereka makin tak terkendali. Satu demi satu, Abimanyu berhasil membunuh lawan-lawan tangguhnya : Swarcas, Satrujaya, dan terakhir adalah Suryabasa

Pandita Durna benar-benar mengagumi akan kegagahan dan keberanian  prajurit muda belia itu.
Selekasnya di panggilnya Sangkuni serta Adipati Karna dan Jayadrata. Sesudah mereka menghadap, Pandita Durna menguraikan karti sampeka akal akalannya. Dia menyuruh supaya pihak Kurawa mengibarkan bendera putih untuk sinyal tanda menyerah. Kemudian, dimintanya Basukarna untuk maju serta merangkul Abimanyu seperti seseorang ayah terhadap anaknya.

Sesudah siasat itu sukses dikerjakan, sesaat kemudian, Jayadrata melakukan perannya dengan memanah punggung Abimanyu. Tindakan yang licik dan tidak ksatria. Saat itu juga, muncratlah darah dari punggung Abimanyu. Tidak tega Basukarna melihat keponakannaya bersimbah darah, saat itu juga dia undur kebelakang serta melaporkan kesuksesannya pada pandita Durna

Sepeninggal Adipati Karna, selekasnya Durna memberikan aba-aba untuk kembali menyerang. Tetapi Abimanyu tidaklah gentar, ia makin bergerak maju menyambut serangan.

Melihat lawannya terkena panah yang  menancap di punggungnya, aba aba keroyok bersahut sahutan dari pihak Kurawa. Dari jauh anak panah lain dilepaskan oleh warga Kurawa, ada pula yang menghunjamkan  tombak serta nenggala dan trisula bertubi tubi. Dalam kurun waktu singkat, semua jenis senjata menancap ditubuh satria muda itu.

Tetapi hebatnya satria muda yang terluka parah ini tetap maju dengan amukannya. Dari  jauh gerakan sang prajurit muda itu seperti gerak seekor landak, saking banyaknya anak panah serta tombak yang menancap di sekujur badannya. Jadi apabila digambarkan lebih jauh lagi, ujud dari satria tampan ini seperti penganten tengah diarak. Kepala yang penuh senjata seperti karangan bunga yang terangkai sedangkan badannya seperti kembar mayang yang melingkari raganya. Ada beberapa senjata tajam mengiris perutnya. Usus yang memburai yang disampirkan pada duwung yang terselip di pinggangnya, seperti untaian melati menghiasi pinggang.

Dilain pihak, dalam pikiran Abimanyu teringat  sumpahnya saat menghindar dari pertanyaan istri pertamanya, Retna Siti Sundari, saat berprasangka buruk bahwasa sang suami telah beristri lagi. Sumpah yang diiringi gemuruh petir, bahwasanya apabila ia berlaku poligami, maka bolehlah orang senegara meranjap badannya dengan senjata apa pun.

Waktu itu ia terlepas dari tuduhan Siti Sundari, tetapi sesudah Kalabendana raksasa boncel lugu, paman Raden Gatutkaca, mengungkapkan rahasia perkawinannya dengan Putri Wirata, kusuma Dewi Utari, pada akhirnya terbuka juga rahasia yang semula tertutup rapi. Walaupun tidak terjadi peristiwa apapun juga pada waktu itu, namun sumpah tetaplah sumpah. Dan inilah bayaran atas sumpahnya pada waktu itu.

Syahdan, Retna Siti Sundari yang cuma diiring oleh abdi emban menyusul ke peperangan,  berbarengan dengan gugurnya sang suami terkasih. Oleh istri tuanya, Utari tak diperkenankan pergi bersamanya, karena telah mengandung tua.Pun juga ibu mertuanya yaitu Wara Sembadra melarang pula Utari untuk pergi

Saat terdengar teriakan gemuruh menyebutkan Abimanyu sudah gugur, jantung wanita muda ini semakin berdegup kencang. Ia selekasnya lari ketengah palagan tiada menghiraukan bahaya yang mengintip di antara tajamnya kilap bilah-bilah pedang serta runcingnya ujung tombak. Sesampai dihadapan jenasah suaminya yang tetancap beberapa ratus anak panah. Tak terbayang pada mulanya bakal keadaannya yang demikian mengenaskan, Siti Sundari lemas serta lalu tidak sadarkan diri. Situasi rasa sedih jadi tambah mencekam dengan pingsannya sang istri prajurit muda itu.

Sebentar kemudian setelah Retna Siti Sundari tersadar dari siuman,  selekasnya dia menghunus patrem, keris kecil yang terselip dipinggangnya. Dihujamkan senjata itu ke ulu hati. Selekasnya arwah sang prajurit muda, Abimanyu, menggandeng tangan sukma istrinya, mengajaknya melalui tangga tangga kesucian kekal menuju swargaloka. Raga sepasang suami istri muda belia itu tergolek berdampingan. Mereka sudah kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Karakteristik Dewi Drupadi

Karakteristik Dewi Drupadi
Karakteristik Dewi Drupadi


Dewi Drupadi merupakan puteri sulung Prabu Drupada, Raja Cempalaradya. Nama yang lain yaitu Dewi Krisna, Dewi Yajnaseni, atau mungkin Dewi Pancali. Sesudah dewasa, ayahnya mengadakan  sayembara untuk mencarikan jodoh buatnya. Ada dua versus sayembara. Versus pertama yaitu versus Mahabarata, dalam sayembara ini diumumkan, barangsiapa bisa mementang Gendewa Pusaka, yakni busur panah punya Kerajaan Pancala, bakal dikawinkan dengan Dewi Drupadi. Dalam sayembara ini, sesungguhnya Basukarna sukses mementangkan Gendewa Pusaka, namun sebelum saat Karna memakai untuk memanah tujuan yang ditetapkan, Dewi Drupadi berucap, bahwa dia tidak bisa menikah dengan orang yang bukan keturunan dari bangsawan. Mendengar perkataan itu dengan muka merah Basukarna segera jalan keluar istana. Arjuna lah yang pada akhirnya memenangkan sayembara ini.

Versus yang kedua yaitu versus yang umum dipergelarkan dalam pewayangan. Sayembara ini mengatakan bahwasanya barangsiapa bisa menaklukkan Patih Gandamana maka dia memiliki hak memboyong Dewi Drupadi. Pada akhirnya yang sukses memenangkan sayembara ini yaitu Bima. Bima turun gelanggang serta sukses menaklukkan Patih Gandamana. Mendekati waktu ajalnya, Patih Gandamana mewariskan aji Wungkal Bener serta Bandung Bandawasa pada Bima. Saat itu Bima turut dalam sayembara mewakili kakaknya, Puntadewa. Menurut versus Mahabarata, Dewi Drupadi pada akhirnya jadi istri ke lima Pandawa, namun lantaran hal semacam ini tak umum menurut budaya Nusantara, Dewi Drupadi cuma menikah dengan Puntadewa.  Dewi Drupadi yang disebut titisan Dewi Srigati ini senantiasa turut dalam beragam duka serta derita beberapa Pandawa. Dari pernikahannya dengan Puntadewa, Dewi Drupadi memiliki seseorang anak bernama Pancawala.

Dewi Drupadi merupakan simbol wanita yang setia serta tahan banting terhadap semua jenis penderitaan, walau sebenarnya dia puteri Raja. Sesudah menikah dengan Puntadewa, tiada pernah sedilitpun mengeluh. Dewi Drupadi sempat melakukan hidup sebagai pengelana dengan keluar masuk rimba. Mereka cuma hidup dari pemberian orang, lantaran pada saat itu beberapa Pandawa tengah melakukan hidup  brahmana, sesudah momen Bale Sigala-gala. Dewi Drupadi baru bisa hidup lumrah layaknya seorang permaisuri, saat Pandawa usai membangun Kerajaan Amarta. Tetapi kewajaran itu tak berjalan lama, lantaran Pandawa harus kalah dalam permainan judi dadu, yang disebabkan siasat licik dari Patih Sangkuni.

Tetapi selain beberapa watak baiknya, Dewi Drupadi juga memiliki karakter yang kurang baik, yaitu berlidah tajam. Tak hanya sempat menyinggung perasaan Basukarna dengan menyampaikan tak sudi kawin dengan orang yang bukan  kelompok bangsawan, dia juga menghina Prabu Duryudana yang disebutkan sebagai anak orang buta. Lantaran perlakuan Drupadi yang seperti itu, maka saat Pandawa kalah dalam permainan dadu, Adipati Karna melampiaskan dendamnya dengan memanas-manasi Dursasana supaya menelanjangi Drupadi, sedang Prabu Duryudana tertawa senang melihat Drupadi dipermalukan dihadapan beberapa orang. Dihadapan beberapa Pandawa, putri Raja Cempala yang juga permaisuri Raja Amarta itu diseret Dursasana dengan menarik rambutnya. Lalu dihadapan orang ramai, Dursasana menarik kain yang dikenakan Dewi Drupadi, tetapi dengan cara yang gaib tiba-tiba senantiasa nampak kain baru yang menyelimuti badannya. Itu seluruhnya karena pertolongan Batara Darma, Dursasana yang berkali-kali menarik kain Dewi Drupadi akhirnya jatuh kelelahan dan tidak berhasil menelanjangi Drupadi. Saat tersebut Dewi Drupadi bersumpah tak akan lagi menyanggul rambutnya sebelum  dikeramas dengan darah Dursasana. Sumpah Dewi Drupadi pada akhirnya terwujud, dalam Baratayuda, Bima sukses membunuh Dursasana serta merobek dada lawannya itu lalu menghirup darahnya. Dengan mulutnya Bima membawa darah Dursasana untuk diberikan pada Drupadi buat keramas rambutnya.

Sesudah usai  pembuangan di rimba Kamiyaka sepanjang 12 tahun, Pandawa serta Dewi Drupadi masih juga hidup menyamar sepanjang satu tahun. Saat bersembunyi di Kerajaan Wirata, Dewi Drupadi menyamar menjadi dayang istana yang melayani permaisuri Raja, dia menggunakan nama samaran Malini atau mungkin Sairandri. Pada saat beberapa Pandawa mengadakan perjalanan kelana untuk menjemput kematian, Dewi Drupadi mengikuti mereka. Nyatanya dalam perjalanan itu, Drupadi lah yang lebih dahulu mati. Lidahnya yang tajam serta sempat melukai hati sebagian besar orang,  dianggap sebagai dosa paling besar oleh Batara Yamadipati.