Rabu, 05 Februari 2014

Nama-nama Wanita Dalam Pewayangan


SRIKANDI
Nama Srikandi bisa disimpulkan memliki rumbai atau  jambul. Hal semacam ini kerap dianggap sebagai  lambang feminin dari istri Arjuna. Di segi lain, Srikandi malah memperlihatkan segi yang benar-benar maskulin , seperti suka pada  hal yang bergubungan dengan olah keprajuritan, jago naik kuda, jago berenang  serta pandai strategi perang. Tak heran bila Srikandi juga dikenal  jago memanah hati.

Dalam satu lakon pewayangan, Srikandi di deskripsikan menempati peran senopati (panglima) untuk pasukan Pandawa dalam perang di Kurusethra melawan Kurawa.  Arjuna sukses membunuh Bisma lewat pertolongan Srikandi . Bisma yang bertemu dengan Srikandi, cuma terdiam serta menjatuhkan senjatanya waktu  Arjuna melepas panahnya ke arah Bisma, yang berakibat gugurnya Bisma.

Konon, Bisma terdiam memandang Srikandi lantaran kagum oleh kecantikannya serta kemolekan srikandi serta  meyakini Srikandi sebagai titisan Dewi Amba yang sempat tidak diterima Bisma, pada saat wanita itu mengajaknya menikah. Lalu Dewi Amba bersumpah bakal menjadi ksatria yang mengakibatkan kematian Bisma di medan perang.

KUNTHI
Wanita inilah yang melahirkan Pandawa Lima, yakni Yudhistira, Bima, Arjuna serta Nakula serta Sadewa. Tak heran bila lalu dikira teladan untuk sosok ibu yang anaknya sukses dan berhasil. Tetapi disisi lain, Kunthi juga dikisahkan sempat membuang anaknya sendiri, Karna, ke sungai. Anak itu  hasil hubungan dengan Dewa Surya. Karena Kunthi cemas serta takut orang-orang  tahu ia mempunyai bayi dari Dewa Surya, maka ia menghanyutkan  bayi itu. Untungnya seseorang kusir pedati menemukannya serta membesarkan Karna hingga ia jadi Panglima Perang yang hebat yang berpihak pada Kurawa.

Lalu Kunthi menikah dengan Pandu. Dari perkawinan inilah lalu lahir Pandawa lima. Dalam perang Bharatayudha melawan Kurawa, Pandawa bertemu dengan Karna, panglima perang Kurawa. Saudara satu Ibu ini bertarung di medan perang dengan di saksikan oleh Kunthi, ibu mereka sendiri.


ANGGRAINI
Dewi Anggraini digambarkan sebagai wanita yang baik hati, jujur, serta setia kepada suami. Dewi Anggraini adalah wanita yang sempat menampik cinta Arjuna .
Alkisah, Dewi Anggraini yang merupakan istri Bambang Ekalaya , seseorang ksatria yang benar-benar mahir dalam memanah. Satu hari saat Guru Dorna , yang mengajar Bambang Ekalaya memanah, meminta Bambang memotong jarinya sendiri. Diluar itu Dorna juga memecat BambangEkalaya untuk muridnya. Terakhir ia tahu, Arjuna lah yang meminta Dorna melakukan beberapa hal itu pada dirinya. Argumennya, Arjuna tidak mau kemampuannya memanah tersaingi oleh Bambang Ekalaya. Diluar itu, Arjuna juga inginkan Dewi Anggraini jadi istrinya.
Untuk memperoleh Dewi Anggraini, Arjuna menantang Bambang Ekalaya untuk adu panah. Sesudah sekian kali kompetisi, Arjuna tertinggal jauh. Sampai satu saat, lewat cara yang licik, Arjuna menipu Bambang Ekalaya serta sukses menghujamkan panahnya di dada Bambang Ekalaya serta ia juga tewas. Walaupun Bambang sudah mati, Dewi Anggraini terus menampik dinikahi Arjuna. Ia lebih menentukan bunuh diri serta mati berbarengan suaminya dari pada mesti menikah dengan Arjuna.

DRUPADI
Terdapat beberapa versus tentang sosok Drupadi ini. Ada versus yang menyebutkan bahwasanya Drupadi adalah wayang wanita yang berpoliandri. Lima pria yang dinikahi Drupadi itu yaitu Ksatria yang di kenal untuk Pandawa Lima, yakni Yudhistira, Bima, Arjuna serta Nakula – Sadewa. Tetapi dalam versus lain Drupadi digambarkan cuma mempunyai 1 suami yakni Yudhistira
Sepotong cerita hidup Drupadi dalam dunia pewayangan yang paling populer yaitu waktu Yudhistira, suaminya berjudi dengan Dursasana. Sesudah melalui perjudian yang alot serta seru, Yudhistira menanggung derita kekalahan yang besar, Bukan hanya negara serta saudara-saudaranya yang dijadikan bahan taruhan, juga istrinya sendiri, Drupadai juga dijadikan bahan taruhan. Saat Yudhistira kalah, Drupadi mesti merelakan dianya untuk di ambil Dursasana. Tetapi, sebelum saat ia menyerahkan diri, Drupadi berdoa memohon perlindungan pada Dewata hingga berlangsung keghaiban.
Saat Dursasana berupaya menelanjangi Drupadi di arena judi, kain pembungkus badan Drupadi tak sempat habis. Makin Dursasana menarik kain Drupadi, maka makin panjang kain itu. Konon, karena sangat panjangnya kain itu dapat menutupi semua area kerajaan . Drupadi juga terlepas dari perlakuan memalukan Dursasana serta dapat membela dianya, tiada dibantu suaminya yang populer untuk ksatria hebat itu.

BANOWATI
Cewek yang cantik ini yaitu putri bungsu Prabu Salya, Raja Mandaraka dengan permaisuri Dewi Pujawati dengan kata lain Setyawati. Dalam dunia pewayangan Banowati digambarkan mempunyai ciri-ciri yang mengagumkan, terlebih dalam hal cinta. Hal itu tercermin dalam satu diantara cerita yang menceritakan pernikahan Banowati dengan Prabu Duryudana. Sebelum saat menikah dengan Prabu Duryudana, Banowati menjalin jalinan dengan Arjuna. tetapi lamaran Duryudana juga tak mmungkin tidak diterima oleh ayahnya, Prabu Salya. Menampik bermakna menghina serta mungkin berekor peperangan. Tetapi di segi lain, Banowati juga tak inginkan hubungan dengan Arjuna putus.

Tetapi bukan hanya banowati namanya, bila tak mempunyai kiat. Ia sepakat menikah dengan Duryudana, namum ada prasyaratnya. Banowati meminta “di rias” oleh Arjuna sepanjang sehari satu malam. Dalam area rias itu cuma ada Banowati serta Arjuna . Hal semacam ini melukiskan begitu Banowati dapat mengatur cintanya pada Arjuna, tetapi juga menyelamatkan keluarganya dari amukan Duryudana 



Senin, 03 Februari 2014

Petruk Menjadi Ratu

Petruk menjadi ratu


ratu Petruk
Alkisah, tuannya, Abimanyu menanggung derita sakit.Berbarengan dengan sakitnya, pergilah ketiga wahyu yang dipunyainya, yaitu wahyu Maningrat, yang menyebarkan benih keratuan, wahyu Cakraningrat, yang melindungi keberadaannya untuk ratu, serta wahyu Widayat, yang melestarikan hidupnya untuk ratu.

Ketiga wahyu itu lalu hinggap di diri Petruk, yang pada akhirnya bisa menjadi raja di negara yang dinamainya Lojitengara. Ia menggelari dirinya sendiri dengan julukan  Prabu Wel-Geduwel Beh. Namun kenyataannya untuk dapat tetap kukuh sebagai raja, ia memerlukan damper kerajaan Astina. Untuk itulah ia menyuruh patihnya Bayutinaya (titisan Anuman) dan Wisandhanu (titisan Wisanggeni) untuk mengambil tahta Palasara tersebut.

Ketika kedua utusannya telah berhasil mengambil tahta tersebut, Prabu Wel Geduwel Beh mencoba duduk di atasnya. Namun, berkali-kali dia duduk berkali-kali pula dia terjungkal. Akhirnya melalui bisikan penasehat kerajaannya,  Prabu Wel Geduwel Beh tahu bahwa Prabu Wel Geduwel Beh harus memangku terlebih dahulu Abimanyu yang tengah dirundung sakit.
Ajaib. Saat Abimanyu dipangku oleh Prabu Wel Geduwel Beh, Abimanyu langsung pulih dari sakitnya.

Saat itulah Petruk sadar bahwa keluarnya ketiga wahyu dari tuannya hanya untuk menjadi penitik siapakah yang dapat memangku orang yang kedunungan wahyu sebagai raja. Seorang raja tidak akan pernah menjadi raja jika tidak dipangku oleh rakyatnya.
Rakyat akan ada sepanjang jaman. Sedangkan raja, dia hanya hidup sesaat. Kehidupan raja tidaklah kekal. Kehidupan raja sangat bergantung kepada kawulanya untuk bisa menyempurnakan kehidupan sang raja tersebut. Adanya rakyat itu tanpa batas. Sebaliknya adanya (kekuasaan) raja itu sangat terbatas.

Petruk semakin mengerti, siapa diri rakyat itu sesungguhnya. Hanya rakyat yang bisa menolong penguasa untuk menuliskan sejarahnya.Untuk itulah sudah semestinya seorang raja menghormati kawulanya/rakyatnya. Tidak malah menjarah hidup kawulanya dan berlaku sewenang-wenang ketika menjadi penguasa.  Penguasa itu mesti berkorban untuk kawula, Karena tanpa kawula, tidak akan pernah seorang raja menaiki tahtanya di dalam kekuasaannya.
Raja dan rakyat harus sama-sama saling menjaga, menghormati, dan saling memangku

Tapi Ki Petruk, mengapa banyak penguasa yang tak memperhatikan kawula,menginjak-injak dan menghina kawula, toh tetap dapat duduk di tahtanya?
"Dalam pewayangan pun ada penguasa yang tak dipangku rakyat seperti saya. Dia adalah Dasamuka yang lalim. Dia adalah Duryudana yang serakah. Seperti halnya hanya ada satu tahta Palasara, demikian pula hanya ada satu tahta rakyat. Duryudana berkuasa, tapi tak pernah berhasil menduduki tahta Palasara. Banyak penguasa berkuasa, tapi mereka sebenarnya tidak bertahta di dampar yang sebenarnya, yakni dampar rakyat ini", jawab Petruk.

Tiba-tiba Petruk mendengar, tanah datar di hadapannya itu bersenandung. Makin lama semakin keras bahkan menjadi senandung Panitisastra: dulu tanah itu adalah hutan lebat yang bersinga. Singa bilang, kalau hutan tak kujaga tentu ia akan dibabat habis oleh manusia. Dan hutan bilang, kalau singa tak kunaungi dan pergi dariku, pasti ia akan ditangkap oleh manusia. Akhirnya singa dan hutan sama-sama binasa. Singa yang tak berhutan dibunuh manusia, hutan yang tak bersinga dibabat manusia….
"Raja dan rakyat harus wengku-winengku (saling memangku), rangkul-merangkul, seperti singa dan hutan, seperti Abimanyu dan Petruk", kata Ki petruk menyenandung tembang Panitisastra.

Minggu, 02 Februari 2014

Lahirnya Parikesit

Telah usai perang Baratayuda


Perang yang merenggut ribuan prajurit pilihan hanya karena ingin menunaikan kewajiban negara dan mengikuti perintah Sang Senopati, telah mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan bagi rakyat seluruh negeri.

Perang yang telah menyingkirkan ratusan, ribuan, bahkan jutaan nyawa yang sama-sama ingin mempertahankan harga diri, angkara murka, kedigdayaan, nyatanya hanyalah menyisakan perih serta duka yang mendalam.

Perang yang hanya ingin mempertahankan sejengkal tanah. Tanah kekuasaan dari beberapa gelintir penguasa, ternyata hanyalah menyisakan darah dan air mata pertiwi. Mengatasnamakan perjuangan, kebenaran, tapi ternyata hanyalah perang yang menghancurkan persaudaraan dan kasih sayang.

Perang Baratayudha telah menguras habis air mata Kunthi. Menimbulkan luka teramat dalam ketika kembali diingatnya anaknya, Karna, yang tak pernah diakuinya sebelumnya, telah gugur melawan Arjuna saudaranya sendiri. Satu persatu anaknya gugur terbunuh. Yah, perang memang kejam. Tak ada kebahagiaan yang terwujud dalam perang. Hanya penderitaan dan air mata.

Begitu-pun beberapa Pandawa. Walau kemenangan mereka genggam atas saudaranya Kurawa, tetapi bagaimanapun mereka, para Kurawa, adalah saudaranya.Walaupun acapkali terzalimi, tapi itulah yang telah mendewasakan Pandawa. Menjadikan mereka sabar dan tabah dalam penderitaan. Kuat dan kukuh memegang kebenaran.

Segalanya telah terjadi. Telah digariskan oleh Sang Maha Kuasa dan Maha Agung. Kehidupan haruslah berlanjut. Membangun kembali puing-puing yang hancur berantakan menjadi istana megah nan indah.

Hati-hati yang luka mesti selekasnya terobati. Jiwa-jiwa yang merana mesti selekasnya menemukan kesegaran. Serta hidup haruslah dibangun dengan lebih baik.

Semangat tersebutlah yang terus dihembuskan oleh Kresna serta Baladewa pada beberapa Pandawa serta keluarganya yang masih tertinggal. Semangat untuk selekasnya bangkit kembali dari rasa sesal. Bahwa kemuliaan memang haruslah dilandaskan pada pengorbanan bahwa apa yang telah mereka perjuangkan adalah tetap berada dalam rel kebenaran : membasmi angkara murka !

Bagi Arjuna, perang membawa kepahitan yang teramat dalam. Satria penengah Pandawa itu telah kehilangan demikian banyak orang yang dia kasihi dan cintai. Salah satu diantaranya adalah Abimanyu, putra kesayangannya, yang meninggal sesaat setelah  istrinya Dewi Utari, melahirkan buah cinta mereka berdua.
Yah, dialah Parikesit Calon raja Hastinapura

Beberapa bulan setelah Parikesit lahir, diadakanlah pesta di kerajaan Hastinapura untuk memberikan nama pada sang jabang bayi. Parikesit yang sedang dipangku oleh Nakula kelihatan sangat gelisah dan resah ingin turun dari pangkuan Nakula

Melihat gelagat itu, Nakula pun melepaskannya meskipun tetap mendapatkan pengawasan yang ketat darinya. Parikesit mengamati satu demi satu para tamu undangan yang hadir di balai istana.Dengan matanya yang tajam, akhirnya Parikesit bisa melihatnya, lelaki itu....lelaki yang telah menyelamatkannya waktu itu dari panah aswatama, sedang bersembunya di balik pilar.
Dialah Sri Krishna....