Rabu, 12 Februari 2014

Parikesit Jumeneng Ratu

Parikesit Jumeneng Ratu


parikesit jumeneng ratu

Raden Parikesit merupakan putera dari Raden Angkawijaya dengan Dewi Utari. Parikesit dilahirkan sesudah perang Baratayudha. Dia Benar-benar sangat disayangi oleh ke lima Pandawa. Pada saat ia  bayi selalu di cari oleh Aswatama, untuk dibunuh lantaran Parikesitlah yang dimasa akan datang bakal menguasai negeri Hastinapura. Namun dengan tidak disengaja, Parikesit menendang panah yang di taruh buat menjaganya dan seketika mengenai Aswatama. Tersungkurlah Aswatama hingga menemui ajal terakhirnya. Lalu, Parikesit bertahta sebagai raja di Hastinapura, bernama Prabu Kresnadipayana, seperti nama buyut, Prabu Kresnadipayana (Abyasa). Tokoh Parikesit terhitung wayang penutup dalam wayang Purwa. Kemudian disambung zaman Madya, juga bernama wayang Madya, serta Parikesit permulaan cerita dari wayang Madya.Parikesit terhitung cerita terakhir dari wayang Purwa, dan cuma sedikit memainkannya.

Parikesit memperoleh kehormatan berbentuk Kekuasaan serta “Power” tidaklah dia yang menginginkan apalagi berambisi untuk merebutnya. Sistem naik tahta Parikesit diawali jauh sebelum saat dia dilahirkan di muka bumi. Dalam cerita carangan pewayangan (bukan hanya versus asli Mahabarata Hindia), sekurang-kurangnya diawali dari kerja keras serta perjuangan berat Abimanyu saat masih menjadi  perjaka (Abimanyu yaitu bapak parikesit ) untuk memperoleh wahyu JayaNingrat (Cakra Ningrat?) anugerah dari Yang Maha Tunggal melalui beberapa dewa di kayangan. Konon, siapa saja yang memperoleh wahyu ini keturunan yang berkaitan bakal memperoleh keluhuran serta kejayaan dalam hidupnya. Saat berita bakal turunnya wahyu ini menyebar, maka beberapa kesatria berupaya dengan semua daya serta kemampuan yang dimilikinya untuk memperoleh wahyu itu. Tak terkecuali Lesmana Mandrakumara, anak Kurupati, Samba anak Kresna, serta Abimanyu putra Harjuna. Beragam halangan serta godaan mesti mereka hadapi baik godaan untuk menguji fisik berbentuk ketangkasan serta keprigelan olah kanuragan, siksaan batin dengan bertapa berbulan – bulan hingga godaan syahwat berwujud wanita penggoda nan cantik rupawan. Serta pada perebutan wahyu itu, Abimanyulah yang lalu memenangkannya

Tetapi lalu Abimanyu gugur dalam perang Bharatayuda  lantaran melindungi Puntadewa yang diserang oleh pasukan Kurawa,Puntadewa yang merasa bersalah, sedih luar biasa atas tewasnya Abimanyu. Dalam penyesalan yang amat dalam in, dia bersumpah di hadapan seluruh jagad raya bahwa kelak setelah perang ini selesai dan jika Pandawa berhasil keluar sebagai pemenang, tiada lain yang patut naik tahta kerajaan dengan keluhuran dan kejayaan selain keturunan Abimanyu. Sumpah ini didengar seluruh jagad dan direstui Gusti Yang Maha Menentukan. maka hak akan tahta   berpindah ke tangan putera Abimanyu, yang kebetulan lahir bertepatan dengan usainya perang Bharatayuda. Sesaat tampuk pimpinan kerajaan Astina ada ditangan Puntadewa, lalu Prabu Baladewa atau  Begawan Curiganata ditugaskan untuk mendidik serta membina Parikesit sebagai putra mahkota.

Parikesit diangkat jadi Raja Astina lewat sistem pendadaran atau mungkin sistem kaderisasi serta pergantian yang disiapkan dengan cara masak. Suatu suksesi yang terpogram, damai, menawan serta tiada gejolak. Ajaran “Kautamaning Prabu” diberikan serta diwariskan oleh Pandawa pada Parikesit sampai sistem pergantian serta suksesi itu berjalan alami serta damai.

BENTUK WAYANG

Parikesit bermata jaitan, hidung mancung. Berjamang dengan garuda membelakang besar, bersunting. sekar kluwih, rambut terurai udalan. Berkalung putran bulan sabit. Bergelang, berpontoh serta berkeroncong. Kain katongan.

pada lakon parikesit jumeneng ratu, dia sempat  dimusuhi oleh pancawala lantaran pancawala cucu prabu puntodewo di hasut serta di profokatori oleh anaknya sangkuni bahwa dialah yang sebenarnya berhak bertahta menjadi raja atau ratu. Namun berkat pamongnya yakni semar, pada akhirnya dinasehati sehingga berakhir dengan aman dan tentram. Anak sangkuni di hukum mati dengan cara tangan kanan serta kiri diikat ke dua kuda dan badannya terbelah menjadi dua


Demikianlah perjalanan Parikesit hingga naik tahta kerajaan Hastinapura saat itu. Terbersit hikmah bahwa kekuasaan dan kejayaan seharusnya bukanlah jalan untuk kenikmatan dan kepuasaan pribadi yang perlu direbut dengan ambisi. Dan bahwa proses panjang perjuangan yang kita lakoni dalam hal apapun belum tentu akan kita pula yang mendapatkan balasannya secara langsung. Pandawa dan Abimanyu mengajarkan hal ini. Tugas, perjuangan dan apapun yang kita jalankan dengan hati bening dan tanpa ambisi seharusnya sudah merupakan hadiah dan keluhuran jika kita benar dalam menyikapinya.  Dalam agamapun, kita diajarkan untuk berjuang berusaha dan berdoa. Perkara hasil, bukan lagi domain kita. Bahkan dalam Islam, niat baik saja – belum lagi sampai kepada pelaksanaan niat baik – sudah diganjar dengan satu pahala. Bukti betapa proses itu sendiri sudah merupakan hadiah.

Wallahualam bissawab…

Sabtu, 08 Februari 2014

Mengenal Sosok Wara Srikandi Dalam Pewayangan

Mengenal sosok Wara Srikandi dalam Pewayangan

Wara Srikandi

Tersebutlah Dewi Amba yang tidak diterima cintanya baik oleh prabu Salva ataupun oleh Bisma.
Sesudah ia mawas diri, maka pada akhirnya sampailah pada satu pilihan serta putusannya yang mantap, yakni bertekat untuk membunuh Bisma. Dewi Amba selekasnya bersemadi memohon pada Sang Maha Agung untuk diberikan kesaktian supaya ia dapat membunuh atau mungkin sekurang-kurangnya membikin malu Bisma.

Nyatanya permintaannya dikabulkan oleh Dewata Agung. Ia memperoleh wisik, bahwasanya nantinya hidup tumimbalnya (inkarnasinya) bakal dapat menaklukkan serta membunuh Bisma. Siapakah inkarnasinya? Tak lain yaitu Wara Srikandi putri Prabu Drupada dari negeri Pancalaradya. Mendengar nada gaib itu, ia tidak senang serta tak sabar. Terlampau lama menanti waktu dimulainya bharatayudha. Karenanya ia pikir tak ada jalan lain baginya terkecuali  bunuh diri saja supaya segera mengalami hidup tumimbalnya. Dewi Amba selekasnya menempatkan api unggun di lembah. Sesudah api unggun menyala, lalu ia naik ke puncak menara serta terjun bebas  ke dalam lautan api, maka tamatlah riwayatnya. Sukmanya melayang mencari Wara Srikandi.

Syahdan, berbarengan dengan momen itu di negeri Pancalaradya Prabu Drupada habis dibikin malu serta dihina oleh Dahyang Resi Durna, betul-betul sakit hatinya. Dendam bercampur malu sudah meradang dalam hatinya. Ia pikir tidak ada jalan lain terkecuali ia  membalas dendam, sedikitnya membikin malu atau bahkan membunuh resi Durna secepatnya.

Ia minta tolong pada dua pendeta bernama resi Yodya serta Upayodya untuk bikin saji-sajian dengan cara ritual untuk memohon pada dewata supaya dianugerahi seseorang putra yang sakti hingga nantinya bisa menaklukkan resi Durna. Upacara keagamaan itu sudah komplit dengan sesajiannya selekasnya diawali. Sesudah upacara itu sudah jalan sebagian lama, bokor tempat bunga setaman yang dipergunakan upacara ritual itu tiba-tiba berisi seorang bayi yang cantik mungil serta telah dibekali dengan baju perang, juga ditangannya sudah memegang busur beserta anak panahnya. Saking senangnya, raja lalu mengangkat tinggi-tinggi bayi tersebut dan dinamakan Wara Srikandi. Dialah yang  nantinya akan menjadi prajurit wanita yang tangguh. Dan pada saat itu pula sukma Dewi Amba menitis pada Wara Srikandi.

Sedang api sesajinya beralih menjadi seseorang bayi lelaki yang tampan dan juga sudah dibekali dengan baju keprajuritan serta senjata ditangannya. Iapun diangkat jadi putranya serta dinamakan Drestajumena. Pada waktu itu pulalah sukma Prabu Palgunadi yang sudah tewas dibunuh oleh Durna menitis ke dalam badannya. Kelak, kelah Drestajumena-lah yang sukses membunuh resi Durna dalam peperangan Bharatayudha. Sedang Wara Srikandi titisan dewi Amba inilah yang dapat menaklukkan serta membunuh Resi Bisma.

Dewi Wara Srikandi dalam penampakan wayang kulit dilukiskan untuk tokoh dengan tampilan branyak (lanyap) dengan posisi muka langak, bermata liyepan, berhidung lancip (walimiring) serta bermulut salitan. Ia bermahkota gundulan dengan sinom yang menghiasi dahinya mengenakan jamang sadasaler dengan sumping prabangyungyung. sarira weweg (padat diisi) rambut ngore gendrong, mengenakan baju putren dengan smekan gadung mlati, pinjong dengan dodot bermotif semen jrengut seling gurda serta samparan kain panjang bermotif kawung. Tokoh ini banyak menggunakan atribut seperti kelatbahu serta gelang, namun dipertunjukkan polos. Dewi Wara Srikandi bermuka serta berbadan didik, wanda golek, nenes, patrem. Ada kalanya tampak dengan baju prajurit waktu jadi Senapati Agung dalam Perang Baratayudha.

Hasrat kuatnya untuk menguasai ketrampilan keprajuritan sudah membuatnya belajar tak mengetahui waktu.Itulah yang mengakibatkan semakin lama hubungan antara Arjuna dan Srikandi semakin dekat. Pada akhirnya merekapun saling jatuh cinta. Tetapi sebelum bersedia dinikahi, Wara Srikandi memberi syarat kepada Arjuna agar mencarikan wanita yang lebih pintar dan mengunggulinya dalam olah keprajuritan. Dengan saksi Prabu Kresna, Dewi Larasati sukses menaklukkannya. Oleh karena itu Dewi Srikandi dijadikan istri kedua.

Dalam perjalanan waktu, Srikandi yang cantik serta kenes itu menjadi prajurit handal Pancala. Srikandi tinggal di Ksatrian Madukara berbarengan isteri Arjuna yang lain, Sembadra serta Larasati. Disana ia menjadi penjaga keamanan ksatrian.

Dalam perang besar Bharatayuda, Srikandi menjadi Senopati Pandawa, serta sukses membunuh panglima perang Korawa, Bhisma. Sebenarnya Srikandi bukan  lawan setara Bhisma yang sakti. Namun sekelebat Bhismamelihat bayang Dewi Amba, wanita yang dicintainya dan dibunuhnya saat masih muda, hingga tak sadar panah Srikandi telah menembus jantungnya. Selesai perang besar Bharatayuda, Srikandi yg tidak mempunyai anak itu tewas dibunuh Aswatama yang menyelusup diam-diam ke perkemahan Pandawa.



Rabu, 05 Februari 2014

Nama-nama Wanita Dalam Pewayangan


SRIKANDI
Nama Srikandi bisa disimpulkan memliki rumbai atau  jambul. Hal semacam ini kerap dianggap sebagai  lambang feminin dari istri Arjuna. Di segi lain, Srikandi malah memperlihatkan segi yang benar-benar maskulin , seperti suka pada  hal yang bergubungan dengan olah keprajuritan, jago naik kuda, jago berenang  serta pandai strategi perang. Tak heran bila Srikandi juga dikenal  jago memanah hati.

Dalam satu lakon pewayangan, Srikandi di deskripsikan menempati peran senopati (panglima) untuk pasukan Pandawa dalam perang di Kurusethra melawan Kurawa.  Arjuna sukses membunuh Bisma lewat pertolongan Srikandi . Bisma yang bertemu dengan Srikandi, cuma terdiam serta menjatuhkan senjatanya waktu  Arjuna melepas panahnya ke arah Bisma, yang berakibat gugurnya Bisma.

Konon, Bisma terdiam memandang Srikandi lantaran kagum oleh kecantikannya serta kemolekan srikandi serta  meyakini Srikandi sebagai titisan Dewi Amba yang sempat tidak diterima Bisma, pada saat wanita itu mengajaknya menikah. Lalu Dewi Amba bersumpah bakal menjadi ksatria yang mengakibatkan kematian Bisma di medan perang.

KUNTHI
Wanita inilah yang melahirkan Pandawa Lima, yakni Yudhistira, Bima, Arjuna serta Nakula serta Sadewa. Tak heran bila lalu dikira teladan untuk sosok ibu yang anaknya sukses dan berhasil. Tetapi disisi lain, Kunthi juga dikisahkan sempat membuang anaknya sendiri, Karna, ke sungai. Anak itu  hasil hubungan dengan Dewa Surya. Karena Kunthi cemas serta takut orang-orang  tahu ia mempunyai bayi dari Dewa Surya, maka ia menghanyutkan  bayi itu. Untungnya seseorang kusir pedati menemukannya serta membesarkan Karna hingga ia jadi Panglima Perang yang hebat yang berpihak pada Kurawa.

Lalu Kunthi menikah dengan Pandu. Dari perkawinan inilah lalu lahir Pandawa lima. Dalam perang Bharatayudha melawan Kurawa, Pandawa bertemu dengan Karna, panglima perang Kurawa. Saudara satu Ibu ini bertarung di medan perang dengan di saksikan oleh Kunthi, ibu mereka sendiri.


ANGGRAINI
Dewi Anggraini digambarkan sebagai wanita yang baik hati, jujur, serta setia kepada suami. Dewi Anggraini adalah wanita yang sempat menampik cinta Arjuna .
Alkisah, Dewi Anggraini yang merupakan istri Bambang Ekalaya , seseorang ksatria yang benar-benar mahir dalam memanah. Satu hari saat Guru Dorna , yang mengajar Bambang Ekalaya memanah, meminta Bambang memotong jarinya sendiri. Diluar itu Dorna juga memecat BambangEkalaya untuk muridnya. Terakhir ia tahu, Arjuna lah yang meminta Dorna melakukan beberapa hal itu pada dirinya. Argumennya, Arjuna tidak mau kemampuannya memanah tersaingi oleh Bambang Ekalaya. Diluar itu, Arjuna juga inginkan Dewi Anggraini jadi istrinya.
Untuk memperoleh Dewi Anggraini, Arjuna menantang Bambang Ekalaya untuk adu panah. Sesudah sekian kali kompetisi, Arjuna tertinggal jauh. Sampai satu saat, lewat cara yang licik, Arjuna menipu Bambang Ekalaya serta sukses menghujamkan panahnya di dada Bambang Ekalaya serta ia juga tewas. Walaupun Bambang sudah mati, Dewi Anggraini terus menampik dinikahi Arjuna. Ia lebih menentukan bunuh diri serta mati berbarengan suaminya dari pada mesti menikah dengan Arjuna.

DRUPADI
Terdapat beberapa versus tentang sosok Drupadi ini. Ada versus yang menyebutkan bahwasanya Drupadi adalah wayang wanita yang berpoliandri. Lima pria yang dinikahi Drupadi itu yaitu Ksatria yang di kenal untuk Pandawa Lima, yakni Yudhistira, Bima, Arjuna serta Nakula – Sadewa. Tetapi dalam versus lain Drupadi digambarkan cuma mempunyai 1 suami yakni Yudhistira
Sepotong cerita hidup Drupadi dalam dunia pewayangan yang paling populer yaitu waktu Yudhistira, suaminya berjudi dengan Dursasana. Sesudah melalui perjudian yang alot serta seru, Yudhistira menanggung derita kekalahan yang besar, Bukan hanya negara serta saudara-saudaranya yang dijadikan bahan taruhan, juga istrinya sendiri, Drupadai juga dijadikan bahan taruhan. Saat Yudhistira kalah, Drupadi mesti merelakan dianya untuk di ambil Dursasana. Tetapi, sebelum saat ia menyerahkan diri, Drupadi berdoa memohon perlindungan pada Dewata hingga berlangsung keghaiban.
Saat Dursasana berupaya menelanjangi Drupadi di arena judi, kain pembungkus badan Drupadi tak sempat habis. Makin Dursasana menarik kain Drupadi, maka makin panjang kain itu. Konon, karena sangat panjangnya kain itu dapat menutupi semua area kerajaan . Drupadi juga terlepas dari perlakuan memalukan Dursasana serta dapat membela dianya, tiada dibantu suaminya yang populer untuk ksatria hebat itu.

BANOWATI
Cewek yang cantik ini yaitu putri bungsu Prabu Salya, Raja Mandaraka dengan permaisuri Dewi Pujawati dengan kata lain Setyawati. Dalam dunia pewayangan Banowati digambarkan mempunyai ciri-ciri yang mengagumkan, terlebih dalam hal cinta. Hal itu tercermin dalam satu diantara cerita yang menceritakan pernikahan Banowati dengan Prabu Duryudana. Sebelum saat menikah dengan Prabu Duryudana, Banowati menjalin jalinan dengan Arjuna. tetapi lamaran Duryudana juga tak mmungkin tidak diterima oleh ayahnya, Prabu Salya. Menampik bermakna menghina serta mungkin berekor peperangan. Tetapi di segi lain, Banowati juga tak inginkan hubungan dengan Arjuna putus.

Tetapi bukan hanya banowati namanya, bila tak mempunyai kiat. Ia sepakat menikah dengan Duryudana, namum ada prasyaratnya. Banowati meminta “di rias” oleh Arjuna sepanjang sehari satu malam. Dalam area rias itu cuma ada Banowati serta Arjuna . Hal semacam ini melukiskan begitu Banowati dapat mengatur cintanya pada Arjuna, tetapi juga menyelamatkan keluarganya dari amukan Duryudana 



Senin, 03 Februari 2014

Petruk Menjadi Ratu

Petruk menjadi ratu


ratu Petruk
Alkisah, tuannya, Abimanyu menanggung derita sakit.Berbarengan dengan sakitnya, pergilah ketiga wahyu yang dipunyainya, yaitu wahyu Maningrat, yang menyebarkan benih keratuan, wahyu Cakraningrat, yang melindungi keberadaannya untuk ratu, serta wahyu Widayat, yang melestarikan hidupnya untuk ratu.

Ketiga wahyu itu lalu hinggap di diri Petruk, yang pada akhirnya bisa menjadi raja di negara yang dinamainya Lojitengara. Ia menggelari dirinya sendiri dengan julukan  Prabu Wel-Geduwel Beh. Namun kenyataannya untuk dapat tetap kukuh sebagai raja, ia memerlukan damper kerajaan Astina. Untuk itulah ia menyuruh patihnya Bayutinaya (titisan Anuman) dan Wisandhanu (titisan Wisanggeni) untuk mengambil tahta Palasara tersebut.

Ketika kedua utusannya telah berhasil mengambil tahta tersebut, Prabu Wel Geduwel Beh mencoba duduk di atasnya. Namun, berkali-kali dia duduk berkali-kali pula dia terjungkal. Akhirnya melalui bisikan penasehat kerajaannya,  Prabu Wel Geduwel Beh tahu bahwa Prabu Wel Geduwel Beh harus memangku terlebih dahulu Abimanyu yang tengah dirundung sakit.
Ajaib. Saat Abimanyu dipangku oleh Prabu Wel Geduwel Beh, Abimanyu langsung pulih dari sakitnya.

Saat itulah Petruk sadar bahwa keluarnya ketiga wahyu dari tuannya hanya untuk menjadi penitik siapakah yang dapat memangku orang yang kedunungan wahyu sebagai raja. Seorang raja tidak akan pernah menjadi raja jika tidak dipangku oleh rakyatnya.
Rakyat akan ada sepanjang jaman. Sedangkan raja, dia hanya hidup sesaat. Kehidupan raja tidaklah kekal. Kehidupan raja sangat bergantung kepada kawulanya untuk bisa menyempurnakan kehidupan sang raja tersebut. Adanya rakyat itu tanpa batas. Sebaliknya adanya (kekuasaan) raja itu sangat terbatas.

Petruk semakin mengerti, siapa diri rakyat itu sesungguhnya. Hanya rakyat yang bisa menolong penguasa untuk menuliskan sejarahnya.Untuk itulah sudah semestinya seorang raja menghormati kawulanya/rakyatnya. Tidak malah menjarah hidup kawulanya dan berlaku sewenang-wenang ketika menjadi penguasa.  Penguasa itu mesti berkorban untuk kawula, Karena tanpa kawula, tidak akan pernah seorang raja menaiki tahtanya di dalam kekuasaannya.
Raja dan rakyat harus sama-sama saling menjaga, menghormati, dan saling memangku

Tapi Ki Petruk, mengapa banyak penguasa yang tak memperhatikan kawula,menginjak-injak dan menghina kawula, toh tetap dapat duduk di tahtanya?
"Dalam pewayangan pun ada penguasa yang tak dipangku rakyat seperti saya. Dia adalah Dasamuka yang lalim. Dia adalah Duryudana yang serakah. Seperti halnya hanya ada satu tahta Palasara, demikian pula hanya ada satu tahta rakyat. Duryudana berkuasa, tapi tak pernah berhasil menduduki tahta Palasara. Banyak penguasa berkuasa, tapi mereka sebenarnya tidak bertahta di dampar yang sebenarnya, yakni dampar rakyat ini", jawab Petruk.

Tiba-tiba Petruk mendengar, tanah datar di hadapannya itu bersenandung. Makin lama semakin keras bahkan menjadi senandung Panitisastra: dulu tanah itu adalah hutan lebat yang bersinga. Singa bilang, kalau hutan tak kujaga tentu ia akan dibabat habis oleh manusia. Dan hutan bilang, kalau singa tak kunaungi dan pergi dariku, pasti ia akan ditangkap oleh manusia. Akhirnya singa dan hutan sama-sama binasa. Singa yang tak berhutan dibunuh manusia, hutan yang tak bersinga dibabat manusia….
"Raja dan rakyat harus wengku-winengku (saling memangku), rangkul-merangkul, seperti singa dan hutan, seperti Abimanyu dan Petruk", kata Ki petruk menyenandung tembang Panitisastra.

Minggu, 02 Februari 2014

Lahirnya Parikesit

Telah usai perang Baratayuda


Perang yang merenggut ribuan prajurit pilihan hanya karena ingin menunaikan kewajiban negara dan mengikuti perintah Sang Senopati, telah mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan bagi rakyat seluruh negeri.

Perang yang telah menyingkirkan ratusan, ribuan, bahkan jutaan nyawa yang sama-sama ingin mempertahankan harga diri, angkara murka, kedigdayaan, nyatanya hanyalah menyisakan perih serta duka yang mendalam.

Perang yang hanya ingin mempertahankan sejengkal tanah. Tanah kekuasaan dari beberapa gelintir penguasa, ternyata hanyalah menyisakan darah dan air mata pertiwi. Mengatasnamakan perjuangan, kebenaran, tapi ternyata hanyalah perang yang menghancurkan persaudaraan dan kasih sayang.

Perang Baratayudha telah menguras habis air mata Kunthi. Menimbulkan luka teramat dalam ketika kembali diingatnya anaknya, Karna, yang tak pernah diakuinya sebelumnya, telah gugur melawan Arjuna saudaranya sendiri. Satu persatu anaknya gugur terbunuh. Yah, perang memang kejam. Tak ada kebahagiaan yang terwujud dalam perang. Hanya penderitaan dan air mata.

Begitu-pun beberapa Pandawa. Walau kemenangan mereka genggam atas saudaranya Kurawa, tetapi bagaimanapun mereka, para Kurawa, adalah saudaranya.Walaupun acapkali terzalimi, tapi itulah yang telah mendewasakan Pandawa. Menjadikan mereka sabar dan tabah dalam penderitaan. Kuat dan kukuh memegang kebenaran.

Segalanya telah terjadi. Telah digariskan oleh Sang Maha Kuasa dan Maha Agung. Kehidupan haruslah berlanjut. Membangun kembali puing-puing yang hancur berantakan menjadi istana megah nan indah.

Hati-hati yang luka mesti selekasnya terobati. Jiwa-jiwa yang merana mesti selekasnya menemukan kesegaran. Serta hidup haruslah dibangun dengan lebih baik.

Semangat tersebutlah yang terus dihembuskan oleh Kresna serta Baladewa pada beberapa Pandawa serta keluarganya yang masih tertinggal. Semangat untuk selekasnya bangkit kembali dari rasa sesal. Bahwa kemuliaan memang haruslah dilandaskan pada pengorbanan bahwa apa yang telah mereka perjuangkan adalah tetap berada dalam rel kebenaran : membasmi angkara murka !

Bagi Arjuna, perang membawa kepahitan yang teramat dalam. Satria penengah Pandawa itu telah kehilangan demikian banyak orang yang dia kasihi dan cintai. Salah satu diantaranya adalah Abimanyu, putra kesayangannya, yang meninggal sesaat setelah  istrinya Dewi Utari, melahirkan buah cinta mereka berdua.
Yah, dialah Parikesit Calon raja Hastinapura

Beberapa bulan setelah Parikesit lahir, diadakanlah pesta di kerajaan Hastinapura untuk memberikan nama pada sang jabang bayi. Parikesit yang sedang dipangku oleh Nakula kelihatan sangat gelisah dan resah ingin turun dari pangkuan Nakula

Melihat gelagat itu, Nakula pun melepaskannya meskipun tetap mendapatkan pengawasan yang ketat darinya. Parikesit mengamati satu demi satu para tamu undangan yang hadir di balai istana.Dengan matanya yang tajam, akhirnya Parikesit bisa melihatnya, lelaki itu....lelaki yang telah menyelamatkannya waktu itu dari panah aswatama, sedang bersembunya di balik pilar.
Dialah Sri Krishna....